SDM & Teknologi, dimanakah kita?

oleh Sidharta Tedja

Dalam keseharian kita, tentunya teknologi sudah sangat ‘meresap’. Kita terbangun dari alarm yang sudah di jadwalkan di smartphone, berolahraga dengan panduan dari aplikasi, jarak dan berbagai aktivitas yang di catat di smartwatch atau di smartphone. Dalam berinteraksi dan berkomunikasi, mungkin kita lebih sering berinteraksi via perangkat teknologi, aplikasi dan email daripada berbicara secara langsung atau bertatap muka. Penggunaan teknologi dalam situasi kerja juga menjadi suatu keniscayaan. Teknologi yang kita manfaatkan dalam keseharian banyak yang dimulai dari kebutuhan di dunia kerja. Dalam ranah pengelolaan sumber daya manusia, hal yang sama pun terjadi. Beriringan dengan perkembangan teknologi maka pengelolaan sumber daya manusia pun semakin optimal dalam menerapkan berbagai teknologi yang tersedia.

Josh Bersin, salah satu pengamat SDM yang terkemuka menjelaskan bahwa, ada perubahan trend penggunaan teknologi dalam SDM

Pada tahun 1970-1980, penggunaan teknologi IT masih sebatas pencatatan dan arsip. Hal ini juga selaras dengan konsep pengelolaan sumber daya manusia yang masih lebih berat ke sisi pengelolaan pegawai dari sisi administratif. Namun seiring dengan perkembangan konsep SDM dan teknologi, maka pada dekade 1990 dan 2000, fokusnya sudah mengarah kepada pengelolaan manajemen talenta. Saat itu mulai bermunculan berbagai  program / aplikasi yang fokus ke aspek tertentu (misalnya khusus untuk rekrutmen, learning, layanan karyawan, manajemen talenta, penggajian dan sistem kompensasi lainnya). Berbagai sistem ini mengotomatisasi  beberapa aspek dari  manajemen talenta  ini sehingga mempermudah pengelolaan SDM pada masa kini. Fitur dalam gawai masih menjadi fitur tambahan dan lebih mengandalkan komputer untuk menjalankan program ini.

Sejak tahun 2010 hingga hari ini, perkembangan teknologi cukup pesat. Teknologi baru seperti pengelolaan Big Data, AI, Cloud Computing dan Internet 4G (bahkan 5G dibeberapa Negara) memungkinkan opsi-opsi yang berbeda. Bila pada  tahun 1990-2000, seorang praktisi sumber daya (HR Professionals) harus menggunakan berbagai program / aplikasi yang berbeda, maka sejak 2010 berbagai fungsi dalam aplikasi itu sudah mulai terintegrasi. Penggunaan teknologi baru seperti AI, Big Data, dan Cloud Computing memungkinkan bahwa proses analisa tidak lagi dilakukan secara terpisah (atau bahkan harus dilakukan secara manual).

Bagaimana perkembangan teknologi dalam assessment?

Dalam assessment pun terjadi perkembangan teknologi yang cukup pesat. Penggunaan assesstment berbasis kertas sudah mulai ditinggalkan dan sudah menjadi kebiasaan, proses ini beralih ke berbagai perangkat teknologi (Metodologi pengolahan data). Penggunaan teknologi pun diterapkan untuk memastikan akurasi dan kehandalan hasil assessment, serta metodologi pengolahan data.

Kami seringkali mendapatkan pertanyaan dari calon klien; bagaimana caranya kita memastikan bahwa tidak ada kecurangan  saat assessment dilakukan di tempat yang tidak terawasi. Dari sisi metodologi misalnya, penerapan konsep IRT (Item Response Theory) memungkinkan bahwa soal yang digunakan tidak akan sama meskipun kandidat mengerjakan test pada saat yang sama. Teknologi dalam hal proctoring mengurangi kemungkinan peserta melakukan kecurangan.

Seiring dengan kebutuhan assessment lebih tepat guna dan selaras dengan kebutuhan bisnis, maka SHL pun menerapkan layanan yang lebih efektif, efisien dan integratif. Graduate solution merupakan salah satu layanan dalam satu platform berupa integrasi dari halaman yang memperkenalkan perusahaan, test online assessment, wawancara secara virtual (baik tatap muka atau dibantu AI), sampai dengan laporan hasil assessment, pencatatan data kandidat dan laporan untuk bagian recruitment. Salah satu perkembangan lain adalah penggunaan AI untuk melakukan penilaian dalam wawancara dimana perilaku dan cara bicara kandidat direkam dan akan dinilai oleh AI dari sisi kepercayaan diri, kelancaran komunikasi dan seberapa jauh berupaya menjalin komunikasi dua arah (engagement).

Aspek lain yang juga selalu perlu kita pertimbangkan ketika berbicara tentang penerapan teknologi bukanlah semata tentang kecanggihan teknologi, tapi apakah teknologi tersebut secara tepat menjawab kebutuhan pengguna. Dalam ranah assessment, issue validitas dan reliabilitas selalu menjadi hal yang harus diperhatikan.

 

Dari sisi teknologi, saat ini banyak pilihan yang menarik untuk menilai potensi seseorang, tidak hanya menggunakan kuesioner namun ada berbagai pilihan misalnya; menilai melalui perilaku seseorang saat memainkan game. Namun sisi keilmuan tentunya harus tetap dijaga; apakah pada akhirnya berbagai teknologi ini bisa diterapkan secara tepat dan akurasi hasilnya bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah? Hal inilah yang saat ini masih menjadi perdebatan yang harus dijawab.

 SHL sendiri lebih mengambil sikap berhati-hati dalam menerapkan berbagai opsi teknologi ini dan lebih menerapkan teknologi (sebagai metode) yang secara ilmiah bisa dipertanggung jawabkan. Pada akhirnya, akurasi hasil assessment adalah tujuan utama yang ingin didapatkan pengguna dari hasil assessment tersebut.

 Sidharta Tedja

Head of Process Enablement

SHL Indonesia

© 2019 PT Eshael Indonesia dan afiliasinya. Hak cipta dilindungi undang-undang.