Menyintas 2021

Oleh : Marizca M. Tambunan

PSBB, PPKM, social distancing, lockdown menghantar kita sepanjang 2020 dan memasuki 2021. Selamat dating di 2021. Belajar hal baru? Ada yang lebih dulu paham, ada yang menyusul kemudian. Ada yang dengan segera mengganti cara pandangnya, ada yang masih berharap menunggu. Bebas bebas saja, pada akhirnya kembali pada kualitas organisasi. 

Siapakah yang siap menjadi penyintas ?

Di akhir 2020, kami mengeluarkan SHL Indonesia Talent Insight 2021 yang melibatkan sekitar 6000-an partisipan terpilih untuk mengetahui Profil Pemimpin Indonesia 2020 di masa pandemi. Hasil menampilkan pemimpin Indonesia yang: 

  • lebih demokratis
  • lebih peduli pada situasi dan lingkungan  – khususnya di organisasi (selective sympathy).
  • Khusus pada lini puncak, profil mereka ditambah dengan menjadi Pemimpin yang lebih “memberikan kepercayaan” pada tim kerja dan sekitar.

Fenomena menarik ini menghantar kami untuk menelisik lebih jauh untuk mengetahui apakah meningkatnya kecenderungan untuk menjadi pemimpin yang lebih peduli, simpatik dan mempercayai tim diimbangi dengan preferensi untuk memastikan kualitas pekerjaan, proses perencanaan dan organisasi yang lebih efektif. 

Ternyata tidak selalu demikian. Situasi yang belum terstruktur akibat pandemi dan perubahan menyeluruh akibat PSBB, PPKM dan berbagai aturan baru dalam sendi sendi kehidupan, memerlukan cara kerja yang imbang antara peduli dan empatik dan mengurangi kompleksitas dengan membangun simplifikasi proses kerja.

Banyak pihak mengatakan agility diperlukan saat ini, tetapi banyak pihak mengartikan agility sebagai tingkat kesibukan yang tinggi. Padahal, tidak selalu demikian. Pemimpin dituntut untuk membangun penyederhanaan target dan rencana kerja sehingga memudahkan tim untuk menentukan titik mulai dan berangkat mereka selanjutnya. Pemimpin tidak boleh larut dalam kepedulian dan empati tetapi harus berimbang dengan fokus pada penyelesaian kerja dan rencana organisasi.

Aspek kemanusiaan bukanlah hal baru bagi kita bangsa Indonesia yang memiliki nilai gotong royong dan rasa sosial yang tinggi, pun dalam hal ini kita perlu berefleksi. Gotong royong, kerja sama atau kolaborasi telah menjadi kata yang terlalu dekat pada kita. Mungkin betul kata orang we are auto pilot in terms of teamwork and collaboration. Kita menjadikannya sebagai motto dan semboyan dan mengusung nilai tersebut termasuk dalam organisasi. Padahal, saat ini sangat penting untuk mengelola kebiasaan kita di masa lalu dan mengenakannya dengan tepat pada konteks yang berbeda saat ini.

Apakah pola dan kebiasaan kita bekerja sama dan berkolaborasi menghantar kita menjadi individu dan organisasi yang lebih agile atau sebaliknya, membuat kita lelah dalam kompleksitas? Kami menyebutnya the needs to resizing our way of working, including our approach in teamwork and collaboration. Semoga kita semua memiliki kualitas penyintas di 2021.

Let’s focus on what matters. Resizing our approach and get everyone to the new point!

Marizca M. Tambunan
Country Managing Director
SHL Indonesia

© 2019 SHL and/or its affiliates. All rights reserved.